Media sosial diramaikan dengan gelombang protes dari generasi milenial yang dengan tegas menyatakan keengganan merawat orang tua mereka yang berasal dari generasi baby boomer. Berbagai unggahan di platform digital dipenuhi kemarahan terkait biaya hidup yang tinggi, beban utang, hingga runtuhnya jaring pengaman sosial.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Namun, menurut pengamatan tim redaksi dari analisis awak media, apa yang disuarakan di dunia maya jauh berbeda dengan kenyataan pahit yang terjadi di dalam rumah tangga. Berdasarkan data dari Population Reference Bureau, jumlah pengeluaran tenaga keluarga yang membantu orang dewasa lanjut usia melonjak tajam dalam satu dekade terakhir.
Sebagaimana dilaporkan oleh Wall Street Journal, jutaan warga dari generasi baby boomer mulai memasuki usia lanjut tahun ini, memicu krisis perawatan lansia yang semakin nyata. Mengutip laporan dari LiveNOW dari Fox, reporter Washington Post Federica Cocco menjelaskan bahwa ukuran keluarga yang semakin kecil serta kurangnya tenaga profesional berbayar memaksa anak-anak dewasa mengambil alih tanggung jawab berat ini.
Ironisnya, beban finansial dan tenaga yang dikorbankan oleh para anak ini tidak sejalan dengan imbalan warisan yang dijanjikan. Berdasarkan analisis Visa Business and Economic Insights, sebagian besar aset orang tua akan habis terserap biaya kesehatan dan kebutuhan hidup di masa tua, sehingga warisan yang kelak diterima generasi penerus menyusut drastis.
Berdasarkan kondisi tersebut, kemarahan dan aksi protes yang digaungkan secara daring hanyalah bentuk pelampiasan emosional sesaat. Pada praktiknya, jutaan anak muda tetap harus memikul beban ganda, yakni merawat orang tua sekaligus menghadapi masa depan finansial yang semakin menantang.