Pasar keuangan global dihebohkan dengan langkah luar biasa yang diambil oleh pemerintah Amerika Serikat dalam akhir pekan lalu. Secara langsung, Washington melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk pertama kalinya sejak tahun 2011. Tindakan ini bertujuan untuk menopang nilai tukar yen Jepang yang mengalami tekanan berat serta memperkuat hubungan ekonomi strategis dengan Tokyo di tengah dinamika perdagangan global yang kian ketat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan analisis tim redaksi, operasi gabungan yang melibatkan Kementerian Keuangan Jepang dan Departemen Keuangan Amerika Serikat tersebut berhasil menstabilkan pergerakan nilai tukar. Kurs yen tercatat bertahan di kisaran 156 per dolar setelah melalui pekan yang bergejolak. Tekanan terhadap mata uang negeri sakura ini memuncak pada akhir Juli ketika nilainya merosot ke posisi terendah sejak tahun 1986, memicu lonjakan harga impor serta inflasi domestik.
Dalam keterangannya, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan bahwa Washington siap kembali turun tangan apabila diperlukan guna menjaga stabilitas ekonomi mitra utamanya. "Pemerintah memberikan hasil bagi mitra tepercaya Amerika. Keamanan ekonomi adalah keamanan nasional, dan aliansi AS-Jepang dibangun di atas keduanya," demikian pernyataan Bessent dalam sebuah unggahan di platform X, menegaskan komitmen tinggi pemerintah dalam mengawal kerja sama bilateral.
Dari pengamatan awak media, langkah intervensi ini tidak terlepas dari perjanjian perdagangan komprehensif yang disepakati oleh kedua negara pada Juli 2025 lalu. Kesepakatan tersebut mencakup pengurangan tarif impor dan komitmen investasi besar-besaran dari Tokyo ke sektor-sektor strategis Amerika Serikat. Pelemahan yen yang terlalu tajam dinilai dapat mengganggu stabilitas perdagangan serta membebani rantai pasok industri yang telah dibangun bersama.
Kendati demikian, para pengamat pasar mengingatkan adanya keterbatasan ruang bagi Departemen Keuangan Amerika Serikat untuk terus melakukan intervensi serupa. Strategi penjualan aset euro yang disimpan dalam Dana Stabilisasi Pertukaran milik Departemen Keuangan dilakukan demi menghindari sinyal pelemahan dolar yang dapat memicu gejolak lanjutan di pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat, khususnya di tengah tingkat imbal hasil jangka panjang yang masih tinggi.