Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) atas kepergian tragis Serda Ahmad Muzammil Farisa. Prajurit muda tersebut meregang nyawa setelah diduga menjadi korban penganiayaan keji oleh empat orang seniornya sendiri di lingkungan asrama.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan penelusuran awak media, insiden tragis yang merenggut nyawa prajurit pangkat sersan dua ini dipicu oleh masalah sepele. Diduga kuat, akar dari penganiayaan maut tersebut bermula dari kesalahan fatal dalam memenuhi pesanan makanan berupa mi kuah yang justru diolah menjadi mi goreng.
Di balik peristiwa kelam yang merenggut masa depannya, almarhum ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang di sekitarnya. Sebagaimana dilaporkan dari pihak Mabes TNI AU, Serda Ahmad dikenal sebagai pribadi yang sangat taat beribadah dan kerap menjadi teladan bagi rekan-rekan seangkatannya.
"Kita semua tahu bahwa almarhum merupakan sosok yang selalu memulai salat subuh di asrama," ujar Kasubdis Kol Ariyanto saat memberikan sambutan dalam prosesi pemberangkatan jenazah pada Jumat dini hari.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa kasus kekerasan dalam asrama militer kembali mencoreng institusi pertahanan negara. Dari analisis awak media, pengawasan internal yang lebih ketat serta penegakan hukum yang transparan menjadi kunci utama agar insiden serupa tidak terulang kembali.
Tidak hanya di lingkungan militer, tetangga di sekitar tempat tinggal keluarga juga mengenang almarhum sebagai sosok yang ramah dan gemar membantu sesama. "Beliau orang baik berjiwa sosial. Sering membantu," kenang Yuyun, salah satu tetangga dekat korban.
Sementara itu, pihak keluarga melalui ayah kandung korban, Toni Eko Prasetyo, merasakan kejanggalan sejak awal kabar duka diterima. Keluarga sempat dikabarkan bahwa putranya tewas akibat kecelakaan sebelum akhirnya mengetahui fakta sebenarnya dari rekan sesama prajurit.
Kasus ini kini tengah menjadi sorotan tajam publik dan pihak berwenang untuk mengusut tuntas keterlibatan para senior yang diduga pelaku penganiayaan. Keadilan bagi Serda Ahmad dan keluarganya menjadi tuntutan utama yang harus dipenuhi oleh penegak hukum militer.