Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia untuk Manajemen Nyeri secara resmi menyelenggarakan Indoanalgesia Official Summit 2026 di Surabaya. Berdasarkan analisis tim redaksi, forum ilmiah bergengsi ini menjadi tonggak penting dalam mengubah paradigma penanganan medis terhadap pasien yang menderita sakit kronis di tanah air.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Mengusung tema kolaborasi lintas disiplin, simposium yang dipusatkan di Surabaya ini bertujuan mengupas tuntas teknik penanganan nyeri secara holistik. Berdasarkan laporan penyelenggara, acara ini tidak hanya berfokus pada penghilangan gejala, tetapi juga mengobati nyeri sebagai penyakit mandiri demi mengembalikan fungsi hidup pasien secara optimal.
Ketua Panitia Indoanalgesia Summit 2026, dr. Mirza Koeshardiandi, Sp.An-TI, Subsp.I.N.(K), FIPM, FIPP, menjelaskan bahwa pendekatan minimal invasif dan terapi regeneratif kini menjadi solusi krusial. "Melalui metode regeneratif dan intervensi tanpa operasi bedah terbuka, kondisi seperti robekan tendon joint maupun saraf terjepit dapat ditangani secara presisi dengan bantuan pemindaian ultrasound untuk merangsang pemulihan jaringan dari dalam," ujarnya.
Sementara itu, Presiden ISAPM, Dr. dr. Ristiawan Muji Laksono, Sp.An-TI, Subsp. M.N(K), FIPP, menekankan pentingnya pemerataan akses kesehatan bagi seluruh masyarakat. Pihaknya saat ini tengah menggalakkan langkah advokasi agar prosedur intervensi medis mutakhir tersebut dapat segera terakomodasi dalam jaminan pembiayaan kesehatan nasional.
Penyelenggaraan akbar ini semakin istimewa setelah Museum Rekor-Dunia Indonesia memberikan penghargaan resmi atas pencapaian luar biasa panitia pelaksana. Direktur MURI, Awan Raharjo, menyerahkan piagam penghargaan setelah mencatat keberhasilan penyelenggaraan 11 lokakarya hands-on dalam satu rangkaian acara ilmiah.
"Ini adalah sebuah rangkaian kegiatan ilmiah di bidang manajemen nyeri yang diprakarsai pertama kalinya oleh ISAPM," ungkap Awan Raharjo mengapresiasi pencapaian tersebut. Dengan prestasi ini, dunia kedokteran Indonesia dinilai semakin siap menjadi rujukan utama dalam bidang anestesi dan manajemen nyeri tingkat regional.